“Memberi dan mendapat kebaikan, sejatinya tidak perlu mengenal sebuah kedekatan pun ikatan.”

    Ya, beberapa waktu belakangan, saya menyaksikan bahkan merasakan sendiri betapa bahagianya saling men-transfer energi kebaikan. Mulai dari orang-orang terdekat, orang yang sekadar kenal, orang yang sekadar saling sapa tanpa tahu nama, bahkan orang yang entah dari mana kita tidak pernah tahu sama sekali.

Bingung ya? Sama, saya juga *ehgimanasihlo

    Begini, saya kenal baik dengan beberapa orang yang hanya bertukar sapa lewat media sosial saja. Tetapi, rasa bahagia saya membuncah ketika bisa mengenal mereka dan berbagi kebaikan dengan mereka. Apalagi dengan tingkat kerandoman saya yang luar biasa, akan sangat membahagiakan ketika saya dapat diterima dengan baik dan dengan hati terbuka oleh mereka. Sesederhana kalimat, “have a nice day, senyum selalu, bahagia selalu, sehat-sehat ya, lekas membaik hatinya, lekas selesai penatnya, yuk jalan-jalan, dan lain-lain.”

    Tidak berhenti sampai di situ, saya juga bahagia ketika ada orang yang bisa mendapat kebahagiaan dari saya. Meski saya tidak sadar karena saya merasa tidak melakukan apa-apa untuk orang itu. Ternyata sederhana konsepnya. Hanya bermodal ketulusan dan niat baik, rupanya kebahagiaan itu akan sampai (dengan catatan, si penerima mau bersyukur). Sesederhana, “makasih selalu mau dengerin curhatku, makasih nggak pernah menghakimi aku, tetap nulis ya dan sehat selalu, semoga selalu bahagia dalam berkarya, dan lain-lain.”

    Dari situ saya mengerti, bahwa kebaikan selalu membawa kebahagiaan. Kalau ada kebaikan yang berujung dengan ketidakbahagiaan, itu tandanya ada yang salah. Kebaikan itu disalahgunakan. Hah, kebanyakan ngoceh emang saya tuh. Monmap.

    Intinya, saya mau berterima kasih. Kepada orang-orang terdekat yang selalu mendukung saya, selalu menjadi telinga dan bahu ternyaman. Kepada orang-orang yang saya kenal dan mengenal saya, meski tidak dekat tetapi selalu mau memberi dan menerima kebaikan bersama saya. Kepada orang-orang yang tidak mengenal saya, tetapi mau saling bercerita dan mendoakan kebaikan. Kepada orang-orang yang hanya bertemu saya sekian detik, tetapi tulus berbagi senyum dan aura positif yang membuat saya senantiasa bersyukur.

    Jadi, butuh alasan apa lagi untuk bersyukur kepada kebaikan Allaah yang sedemikian banyak. Periksa lagi hatinya, jangan sampai kita mengabaikan kebaikan yang tulus. Padahal, sudah tertulis kan kalau “tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan itu sendiri.”

    Terima saja. Perihal tulus atau tidaknya kebaikan dari orang lain, itu bukan urusan kita. Tugas kita hanya menerima dengan baik, membalas dengan sikap dan doa-doa baik pula. Itu saja.

    Yuk, saling mengingatkan. Saya, kamu, mereka, dan kita semua; tempatnya salah dan lupa. Jadi, mari belajar dan saling membaikkan.

Salam sayang,
hujankopisenja.

0 Komentar