Aku memutuskan untuk berhenti. Membiarkan remah-remah kenangan yang pernah kita ciptakan tersapu angin bersama gugur daun kering yang merapuh. Dengan gemetar kututup kotak memori yang berisikan keping-keping hati yang dulu sepat tersusun rapi, kini berantakan nyaris tak membentuk. Kita; simpul yang telah tandas, ingin segera aku kuburkan dalam-dalam di dasar segara perasaan yang kau tinggalkan.

Aku memutuskan untuk berhenti. Membiarkanmu pergi tanpa peduli telah menghancurkan harapku. Sedang aku harus mengemasi segala cerita yang pernah kita rangkai, menaruhnya di laci paling dasar, dan menguncinya agar tak lagi kubuka. Kuakui, melupakanmu bukan perkara mudah, terlebih ketika kenangan kita beterbangan seperti capung kala petang mencumbu senja; indah yang harus kuhentikan.

Aku dan kamu sempat menjadi kita yang melangkah seiring. Membunuh waktu dan rindu dalam riak tawa dalam ruang semesta tanpa batas. Hingga pada suatu ketika perpisahan mengalir dari birai kenestapaan. Beku; serupa gelas kaca yang kau biarkan menggigil dalam dekap musim dingin. Dadaku sesak, lidahku kelu. Ada hampa di sana yang sedang mempersiapkan diri, melepas ceria satu demi satu.

Air mataku gugur setiap kali kuingat kamu, setiap kali bayangan tawamu terlintas dalam anganku. Tidak lagi ada rindu sebagai alasan untuk jumpa denganmu, tidak ada lagi perjalanan untuk menuntaskannya. Kini dan selanjutnya, aku akan menanggung rindu sendirian, menikamnya dengan kejam. Meski akhirnya, jantungku layak terhunus pedang panas yang menyala saga. Tak apa, jika ini adalah jalanku untuk bahagiamu.

Pasca kepergianmu, ada yang harus berkali-kali kuhadapi. Sepi yang menggaungkan jerit nurani, pun dengan luka yang kian perih, dihujani derai yang mengalir dari sudut netra. Aku baik-baik saja, sejujurnya aku telah muak dengan pernyataan itu. Berulang kali kurayu diri agar mau berdamai dengan segala yang tersisa. Menyiapkan langkah untuk mengarungi perjalanan baru; perjalanan melupakanmu.

Pernah kamu bertanya, perihal apa yang bisa kamu lakukan untuk membuatku membaik. Berdoalah; berdoalah agar segala ingatan tentangmu segera terpangkas. Pun dengan aku sedang berusaha mengendalika hatiku, menghapus aksara yang menyusun namamu. Menata kembali hari depanku yang tanpamu. Berdoalah untukku, dan aku percaya bahwa mengarungi perjalanan melupakanmu, aku mampu.

0 Komentar