Maaf, mungkin itu satu kata yang kamu inginkan dariku, bukan? Atas segala derita dan penyesalan yang menyeruak di antara kita.

Lalu, apalagi yang masih bisa kuharapkan? Darimu yang dengan hebatnya meninggalkan jejak persinggahan berupa luka. Bahkan maafmu pun tak cukup menjadi penawar.

Kau pikir hanya dirimu yang terluka? Percayalah, aku harus menusuk diriku dengan tetiap keputusan yang tak berakhir untuk kita. Pada akhirnya, hatiku yang berhenti mengeja namamu.

Mungkin, aku memang tak layak untuk berjalan bersisian denganmu. Hingga perjuanganku untukmu harus dipaksa berhenti. Diambil alih oleh sosok lain yang tak kalah hebatnya denganmu perihal menggapai bahagia.

Tunggu, aku tak pernah meragukan hadirmu yang menjelma kehangatan di dalam dada. Hanya seteah sekian lama aku berlari untuk menemukan; kupikir muara yang kutuju itu kamu; ternyata jalanku menemukan persimpangan jalan yang lain.

Mengapa tak pergi saja sedari dulu? Sebelum rasa ini menjelma doa-doa yang tak pernah alpa kulangitkan. Sebelum restu dua malaikatku menaungi setiap jengkal perjalanan yang kita tapaki.

Rinduku padamu pernah deras. Menggenangi segara rasaku yang pernah kering. Kamu datang di saat aku merasa kesepian. Kamu memberiku alasan untuk kembali berlari

Bukankah sudah pernah kukatakan, langkahku akan lelah berlari. Kau bilang bahwa jika saat itu tiba, kita akan berjalan perlahan. Hilang ke mana janji setia antara kita untuk tidak saling meninggalkan? Katamu aku adalah rumah, tapi nyatanya aku tak lebih dari sekadar beranda untuk kau singgah.

Tentu, aku berlari untuk menyejajarkan langkah denganmu, bersisian menyelusupkan rindu ke dalam ruang-ruang kosong di dadamu. Pada suatu perputaran waktu, kamu memang rumah yang kutuju.
Sampai akhirnya aku sadar, aku tak pernah benar-benar pulang.

Sudahlah, aku tak sedemikian tega memaksamu untuk tetap tinggal. Di titik ini, aku memutuskan pergi. Seperti katamu, meninggalkan tak pernah mudah diupayakan. Jadi, biar aku yang mengambil jarak darimu sejauh-jauhnya. Selamatkan hatimu dan tentu saja hatinya yang kaupilih saat ini.

Jadi, siapa sebenarnya yang memilih pergi? Kamu atau aku? Aku tak perlu menyelamatkan apa pun. Aku tidak pernah menyapu tetiap jejak yang pernah singgah di dalam diriku. Meskipun itu tentang kamu, bukan berarti aku harus melupa.

Jika memang langkahmu terasa berat, biar aku yang undur diri. Bukan berarti aku ingin, hanya saja tidak mau mencemari jalan cinta yang kaulalui. Tugasku padamu telah selesai. Terima kasih telah mengajariku soal cinta. Kelak, jika semesta kembali mempertemukan kita, berjanjilah untuk tidak bertanya perihal frasa ‘baik-baik saja’.


Satu hal yang tidak kamu ketahui, baikbaik saja adalah kamuflase dada yang terus menyesak. Sesaat setelah aku merasa kamu bukanlah rumah yang kucari; sekejap masa silam kembali datang dan mengetuk kerinduanku. Berdiri di persimpangan jalan seperti ini, tak pernah baik-baik saja untukku.



Jarak; satu hal yang mungkin memang ditakdirkan untuk kita. Memastikan rasa yang belum jelas muaranya. Sejak kau bawa dia di antara kita, aku sadar kita butuh jeda. Entah nantinya apa yang akan membersamakan atau memisahkan sejauh-jauh yang tak terkira.



Jarak memang sialan. Menghadirkan luka yang tak mampu kujahit oleh penyesalan. Di persimpangan jalan ini, aku harus memilih. Dan ternyata, hatiku tak memilihmu.



Kini aku semakin mengerti, bahwa apa yang sempat hadir belum tentu menjadi yang tertakdir. Perihalmu aku selalu bersungguh-sungguh. Begitu pun kali ini. Di penghujang aksara, lagi-lagi kuucapkan terima kasih sudah saling merajut kata saling, meski akhirnya harus kembali asing.



Mungkin, memang rasa yang dulu tinggal kini telah tanggal. Menyisakan perpisahan sebagai hidangan penutup dari makan terakhir kita. Aku tahu ini takkan pernah mudah, tapi detik ini aku belaja memulai hidup tanpamu di dalam semestaku. Terima kasih (telah) membuatku kembali berlari. Dan kini, aku harus berhenti lagi. Memulai perjalanan baru dengan seseorang lainnya.




Sebuah kolaborasi oleh :

-hujankopisenja dan ariqyraihan-

0 Komentar