Semesta membawa imajinasiku kembali ke detik itu, memori sebuket bunga mawar biru. Saat itu ada senyum yang tersipu, akibat ulah anehmu tanpa romantisme rayu. Kau berada di sisi, menyisir sepi, meleburkan basa-basi. Renyah tawamu menumpas sunyi, membuka lebar pintu-pintu mimpi.

Sadarku seketika menguar, menghadirkan bayangmu pada tatapku yang nanar. Batinku pilu membantah nalar, mengingatmu tak lagi sanggup menjadi penawar. Rinduku gagap, memupus harap membahasakan gelap. Senyap, runguku tak lagi menangkap, langkah kakimu yang berderap.

Kutabahkan gundah yang kerap meresah, menyuarakan sudut mata yang basah. Pasrah; pada rotasi linimasa aku mengaku kalah. Kupeluk gigil yang sedari tadi memanggil. Kuseka luka seperih hantaman jutaan kerikil.

Sebelum kembali asing kita adalah rajutan kata saling. Berdansa dalam langkah seiring, mengeja nada-nada yang indah berdenting. Kini hanya ada rindu yang terpasung. Di pembaringan ruang naluri tanpa gaung.

Untuk sekian kali, kuantar pergimu di tapal batas palung nurani. Melangitkan doa dan ribu-ribu pinta dalam larik tak bernyali. Kusematkan bunga mawar biru beserta gugur daun kering. Di atas pusara kenangan perihal engkau yang menahanku telak dalam geming.

-hujankopisenja-

0 Komentar