Perihal mencintaimu, aku memilih untuk menyimpannya dengan sangat rapi. Menyembunyikannya baik-baik di palung perasaan paling dalam. Membiarkannya disapu angin Utara, dirahasiakan awan, dipeluk gelombang, atau ditenggelamkan waktu hingga ke dasar.

Perihal mencintaimu, aku memilih membisu dalam kata-kata. Tanpa suara yang lantang, hanya sepenggal lirih kubisikkan namamu sembari merayu Tuhan. Mungkin, sajadah lebih paham dinginnya gerimis dari mataku yang kian menderas, lantaran kecamuk yang sering menghantui pikiranku seketika.
Perihal mencintaimu, aku memilih untuk tidak mengurung banyak tanya dalam kepala. Memutuskan untuk tidak mencari tahu tentang hal-hal yang ada dalam hati dan pikiranmu. Tentang sosok seperti apa yang mampu membuatmu jatuh hati, pun tentang nama yang kau rapalkan sebagai pelabuhan hatimu.
Perihal mencintaimu, aku memilih untuk terus memendam. Tak ada jalan lain kurasa, kecuali membebaskan perasaanku melalui aksara, yang kurangkai menjadi beberapa frasa, kalimat, dan bahkan hingga membentuk alinea-alinea. Yang entah ke mana akan bermuara; bahagia atau lara.

0 Komentar